Pendiri Pondok Pesantren Al-Djazuli Pliken Banyumas berdasarkan fase keberadaan dari pondok pesantren ini, maka terdiri dari dua pendiri, yaitu pendiri fase awal: Syekh K.H. Hasan Djazuli (Mursyid Syadziliyyah dan Sattariyah) – pengasuh pertama, dan pendiri fase baru-mujaddid (inisiator): Kiai Dr. Mohamad Sobirin Sahal (Gus Birin) – pengasuh 2021-sekarang.
Biografi (manaqib) dari Syekh K.H. Hasan Djazuli (1875-1938) terangkum sangat rinci dalam buku “Manaqib Simbah K.H. Hasan Djazuli Banyumas: Sanad Keilmuan, Kekerabatan, dan Jejak Langkah Kehidupan”

Di bawah ini adalah sedikit kutipan dalam bab per bab dari biografi beliau dalam buku tersebut:
Nama dan Nasab
Hasan Djazuli, nama kecilnya adalah Hasan, lahir pada tahun 1875, akrab dipanggil Wan Hasan saat masih muda dan Kiai Haji Hasan Djazuli saat setelah berkiprah di tengah masyarakat dan pondok pesantren, menikah hingga meninggal dunia. Berdasarkan catatan dalam salinan kitab Ushul(silsilah meniko nurun tulisan asli simbah Hasan Djazuli wonten kitab Ushul catatan pribadi nipun), beliau adalah putra dari Simbah Ahmad Thohir. Silsilah nasab beliau tersebut kemudian dirangkai oleh Kyai Saefuddin Thoha, cucu KH. Hasan Djazuli, dalam sebuah nadzam syi’ir.
Nyantri di Ponpes Mangkang dan Mbah Sholeh Darat
Setelah ayahnya wafat, Hasan dimasukkan ke sebuah pondok pesantren di Mangkang, Semarang.[1] Di pesantren ini, Hasan belajar berbagai khazanah ilmu pengetahuan keislaman dari kitab-kitab klasik (atau yang biasa disebut kitab kuning) selama bertahun-tahun. Di pesantren ini, hampir semua kitab-kitab babon diajarkan. Bahkan dikatakan bahwa pondok pesantren ini lah yang pertama kali mengajarkan kitab Fathul Qarib di Indonesia, sebuah kitab fiqih yang lazim diajarkan di hampir seluruh pondok pesantren di Indonesia.
Pada saat itu, pesantren Mangkang diasuh oleh Kiai Abdullah Buiqin/Kiai Abdullah Tulkin (wafat 1340 H/1919 M), pengasuh generasi ketiga Pesantren Dondong, setelah Kiai Abu Darda’ (wafat 1315 H/1894 M).
Selain di Pesantren Dondong, Hasan muda juga nyantri di pesantren asuhan KH. Muhammad Sholeh bin Umar (1820-1903 M) atau yang popular dengan sebutan Mbah Sholeh Darat, di Desa Darat, Semarang. Mbah Sholeh Darat sendiri dulunya juga merupakan santri dari Pesantren Dondong semasa diasuh oleh Kiai Abu Darda’ (pengasuh generasi kedua, setelah Kiai Syafi’i). Kedekatan hubungan pesantren Dondong dengan pesantren Darat ini menjadi alasan kuat bagi para santri pesantren Dondong untuk juga belajar dari pesantren Darat, begitu juga sebaliknya. Meskipun usia pesantren Darat lebih muda dibandingakan pesantren Dondong. Laku nyantri seperti ini telah mentradisi di dua pesantren ini, dan barangkali juga di berbagai pesantren yang lain. Hal ini pula yang dilakukan oleh Hasan, meskipun tercatat sebagai santri Mbah Abdullah di Pesantren Dondong, namun beliau tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk juga nyantri di Mbah Sholeh Darat. Selain karena ada hubungan tersebut, juga karena kedua pesantren ini berada di dalam satu kota dan daerah, yaitu Semarang Barat, yang jarak keduannya tidak begitu jauh. Tinggalan dari beliau nyantri disini yang masih ada saat ini adalah manuskrip kitab tafsir jalalain. Berikut adalah manuskripnya:

[1] Pesantren ini dikenal sebagai pesantren tertua di Jawa Tengah, dengan sebutan Pondok Pesantren Dondong, karena lokasinya di Desa Dondong, Wonosari, Ngaliyan, Semarang. Pesantren itu didirikan pada tahun 1609 M oleh Kiai Syafii Pijoro Negoro bin Kiai Guru Muhammad Sulaiman Singonegoro. Sementara sumber lain mencatat pesantren itu dibangun lebih muda yakni pada tahun 1612 M.
Berkeluarga, Mendirikan Masjid dan Pondok Pesantren Pliken
Desa Pliken, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, waktu itu sedang menghadapi suatu masalah. Beratnya masalah yang dihadapi membuat kepala desa Pliken waktu itu, yaitu Abu Mansur, berniat meminta pertolongan kepada Kiai Maksudi Sokaraja. Diutuslah Bapak Yasraji dengan ditemani beberapa orang untuk menghadap Kiai Maksudi.
Bapak Yasraji ini sudah kenal akrab dengan Kiai Maksudi, karena sering diajak ikut ke Bogangin. Pembicaraan pun berlangsung akrab, dan tidak hanya membicarakan tentang permintaan tolong Kepala Desa Pliken, ternyata Kiai Maksudi berencana akan mencarikan jodoh Hasan Djazuli di daerah Sokaraja. Bapak Yasraji tanggap, beliau bercerita tentang seorang janda beranak satu yang bernama Kasnah (red: Hasnah) binti Mad Yusuf.
Gayung pun bersambut akhirnya Hasan Djazuli dinikahkan dengan Kasnah. Setelah menikah, Kasnah berganti nama menjadi Thahirah. Beliau telah mempunyai seorang putra bernama Muhammad.
Pernikahan Kiai Hasan Djazuli dengan Thahirah pun dikaruniai tujuh anak, yaitu:
- Nyai Musyrifah (menikah dengan Kiai Syuhrowardi, punya 9 putra-putri dan 24 cucu)
- Nyai Hafshah (menikah dengan Kiai Nawawi, mempunyai 8 putra-putri)
- KH. Thaha Salimi (menikah dengan Nyai Syamsiyah, punya 12 putra-putri)
- Nyai Marthiyyah (menikah dengan Kiai Hisyam, punya 1 putra-putri)
- Nyai Fathimah (menikah dengan Kiai Haji Mukhtar, punya 8 putra-putri dan 18 cucu)
- K. Mahfudz (menikah dengan Nyai Bariyah, punya 8 putra-putri)
- K. Abdurrahim (Punya 4 putra-putri dari 4 istri)
Bersama dengan istrinya dan putra-putrinya, Kiai Hasan Djazuli bermukim dan mendirikan Masjid beserta Pondok Pesantren di Pliken.
Haji, Nyantri di Tanah Suci, dan Bai’at Kemursyidan
Setelah bermukim di Pliken bersama dengan istri dan putra-putrinya, Kiai Hasan Djazuli berkesempatan menunaikan ibadah haji sembari ngaji dari ulama’-ulama’ sunni di tanah haram. Menurut riwayat, beliau di tanah suci ini selama antara 3-5 tahun (kisaran tahun 1915-1920). Keberangkatan Kiai Hasan Djazuli ke Mekah ini dengan mengikutsertakan anak laki-laki pertamanya, yaitu Thoha Salimi (1905-1968 M) yang ketika itu masih berusia sekitar sepuluh tahun.[1] Di tanah suci beliau dibai’at menjadi Mursyid Thariqah Syattariyah[2] dan Syadziliyyah oleh Syaikh Ahmad Nahrowi Muhtarom Al-Makki Al-Banyumasi.[3] Oleh karena itu, Kiai Haji Hasan Djazuli tercatat sebagai salah satu dari enam guru Mursyid Syadziliyah pertama di tanah Jawa.[4]
[1] Menurut penuturan putra-putri Kiai Haji Thoha Salimi, usia orang tua mereka ini 63 tahun. Jika beliau berangkat haji bersama ayahnya (Kiai Haji Hasan Djazuli) saat itu berusia 10 tahun, sementara tahun wafatnya adalah tahun 1968, maka keberangakatan haji dari Kiai Hasan Djazuli bersama dengan putranya ini adalah pada tahun 1915, dan pulang dari tanah suci antara tahun 1918-1920 (karena beliau bermukim disana selama 3-5 tahun). Oleh karenanya, di tahun-tahun tersebut beliau bisa mendapatkan sanad keilmuan dari banyak ulama’ Makkah, dan sempat dibai’at sebagai mursyid thariqah Syadziliyyah oleh Syekh Ahmad Nahrowi Muhtarom Al-Makki Al-Banyumasi.
[2] Beliau sudah mengamalkan Thariqah Syattariyah sejak masih di Bogangin, dan seperti lazimnya bai’at mursyid thariqah ini di tanah suci, Makkah, pada saat haji beliau pun dibai’at menjadi mursyid Syattariyah. Namun demikian, belum ditemukan informasi dan data mengenai siapa guru thariqah yang telah membai’at beliau saat di Makkah.
[3] Syekh Ahmad Nahrowi Muhtarom Al-Makki Al-Banyumasi (1276-1346 H/ 1860-1927 M)) adalah salah satu ulama’ dari Banyumas yang saat itu memiliki pengaruh besar di Mekah. Biografi Syaikh Ahmad Nahrawi Banyumas terdapat dalam kitab A’lam al-Makkiyyin karangan ‘Abdullah al-Mu’allimi yang diterbitkan oleh Muassasah al-Furqan, London, 2008. Dalam kitab itu, biografi Syaikh Ahmad Nahrawi Banyumas tertera pada nomor entri 1431, halaman 964. Biografi tokoh ini juga termuat dalam kitab al-Mudarrisun bil Masjidil Haram karangan Manshur bin Muhammad al-Naqib, pada juz I, halaman 287.
[4] Selain melalui jalur Kiai Abdul Malik, Thariqah Syadziliyyah di Jawa juga dibawa oleh KH. Muhammad Dalhar Watucongol, Muntilan, dan Kiai Siroj, Payaman, Magelang; KH. Ahmad Ngadirejo, Klaten; Kiai Abdullah bin Abdul Muthalib, Kaliwungu, Kendal; Kiai Abdurrahman (Syaikh Abdul Kaafi II) Sumolangu, Kebumen; KH. Hassan Djazuli, Pliken; dan KH. Idris Jamsaren, Solo. Keenam guru Syadziliyah pertama ini memiliki mata rantai sanad yang sama: Kiai Ahmad, Kiai Abdullah, Kiai Abdurrahman, KH. Hassan Djazuli, Pliken, Mbah Malik dan Mbah Dalhar mendapatkan ijazahnya dari Syaikh Ahmad Nahrowi Muhtarom Al-Makki, ulama Haramain asal Banyumas. Sementara Kiai Idris Jamsaren yang satu generasi lebih tua mendapatkan ijazah kemursyidannya dari guru Syaikh Ahmad Nahrawi Muhtaram, yakni Syaikh Muhammad Shalih Al-Mufti Al-Hanafi. Keterangan ini dari Kiai Ahmad Iftah Sidik (Pengasuh Pesantren Fatahillah Bekasi dan Wakil Bendahara Lakpesdam PBNU) yang beliau peroleh dari Al-Habib Luthfi bin Yahya (Rais ‘Am JATMAN), dan telah beliau tuliskan dalam artikel berjudul “Tarekat Syadziliyyah: Perkembangan di Jawa Abad 19-20”, diunggah di jaringansantri.com, didownload pada 1/27/2021 pukul 6:17 WIB.
Amalan, Tradisi dan Karamah
Ada beberapa amalan yang diajarkan oleh Simbah KH. Hasan Djazuli yang hingga saat ini masih diamalkan dan dilestarikan oleh generasi penerus beliau beserta masyarakat sekitar. Amalan-amalan tersebut telah menjadi tradisi yang melintasi sekian generasi hingga saat ini, diantaranya adalah pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Amalan Fida’ Kubro, Thariqah Syadiliyyah, dan pengajian “Ahad-Ahadan”.
Cerita-cerita tentang keluhuran pekerti dan tauladan kehidupan yang dicontohkan Simbah KH. Hasan Djazuli, termasuk karamah beliau, juga banyak dituturkan secara turun temurun oleh dzurriyah dan masyarakat di sekitar beliau tinggal. Diantaranya, beliau hampir setiap hari selalu terlihat berada di dalam salah satu dari tiga mihrab masjid yang beliau dirikan. Di dalam salah satu mihrab yang ada, selain beri’tikaf beliau istiqamah menulis. I’tikaf dan menulis di masjid adalah ibarat dua sisi mata uang dari amalan yang dilanggengkan beliau. Oleh karena itu, tidak disangsikan jika sesungguhnya tulisan buah karya tangan beliau cukup banyak, diantaranya adalah kitab ushul, khutbah jum’ah, dan lain-lain. Meskipun sangat disayangkan, tulisan-tulisan tangan beliau mayoritas musnah terbakar.
Cerita lainnya, berdasarkan kesaksian Kiai Saefuddin di saat-saat awal beliau menikah, bahwa pada suatu hari, Mbah Kiai Zuhdi (Pendiri Pondok Leler yang terkenal dengan kewaliyan dan keulama’annya) menyampaikan kepada beliau (yang merupakan cucu menantu) sembari mengajak orang-orang lainnya di Leler, yang saat itu sedang berada di tengah sawah lantaran bercocok tanam, untuk sowan bareng-bareng dengan beliau ke Mbah Djazuli. Redaksinya, “ayo pada sowan ke wali ne gusti Allah sek ora demen dunya!” (Terjemah Indonesia-nya: mari kita berkunjung ke rumahnya wali-nya Allah yang tidak suka harta bendda duniawi).
Selain kesaksian tersebut di atas, masih terdapat hikayat-hikayat lain mengenai karamah Simbah KH. Hasan Djazuli, diantaranya adalah pada suatu hari ada seorang pencuri yang masuk ke dalam rumah beliau dan hendak mencuri, setelah pencuri tersebut berhasil masuk rumah dan mengambil barang yang hendak dicuri, pencuri tersebut justru tidak bisa keluar dari rumah lantaran kebingungan dengan sendirinya, tidak mengetahui harus lewat mana untuk keluar dari rumah. Akhirnya pencuri itu pun hanya berdiam kebingungan di dalam rumah hingga fajar terbit, dan bersimpuh menemui Simbah KH. Hasan Djazuli. Oleh Simbah KH. Hasan Djazuli, pencuri itu bukannnya dihukum atau ditangkap layaknya pencuri, namun justru diajak makan sarapan bersama beliau. Dalam Riwayat yang lain, pencuri itu dipersilahkan untuk pergi tanpa dipersoalkan.
Cerita lainnya, yaitu karamah beliauyang labet-nya bisa dirasakan oleh masyarakat di Pliken hingga saat ini, yaitu bahwa pada suatu malam, Simbah KH. Hasan Djazuli dikirimi teluh (santet) oleh seseorang yang konon ceritanya adalah tokoh pengikut aliran teologi di luar Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang dinilai sesat oleh mayoritas Ulama’ di tanah Jawa saat itu. Di Pliken, tokoh tersebut mendakwahkan ajarannya secara militan dengan menjadikan Pliken sebagai salah satu pusat kantor gerakan aliran ini secara nasional untuk wilayah Purwokerto pada periode awal aliran ini disebarkan ke Indonesia. Namun demikian, Simbah KH. Hasan Djazuli memperoleh bimbingan berupa pesan dari guru beliau di Makkah, yaitu Syekh Ahmad Nahrowi Muhtarom Al-Banyumasi. Pesannya adalah agar beliau membentengi masyarakat di Pliken dari pengaruh ajaran akidah tokoh tersebut. Hingga akhirnya, keberadaan Simbah KH. Hasan Djazuli dan perjuangan dakwah ASWAJA-nya di Pliken menjadi batu sandungan yang sangat berarti bagi tokoh pembawa ajaran tersebut. Oleh karena itu, diceritakan bahwa keberadaan teluh itu dimaksudkan untuk menyingkirkan keberadaan Simbah KH. Hasan Djazuli karena dianggap menghalangi dakwah aliran tersebut. Namun, alih-alih mengenai beliau, teluh tersebut bahkan tidak mampu menembus masuk ke rumah beliau, dan jatuh di belakang rumah beliau dalam perwujudan alat tumbuk kayu tradisional yang besar (jawa: lumpang). Akhirnya, teluh lumpang itu pun justru beliau manfaatkan untuk kebutuhan menumbuk gabah padi dan selainnya. Pada perkembangannya, gerakan aliran teologis itu tersingkirkan dan hilang dari Pliken. Sejak itu hingga saat ini, berkat karamah Simbah KH. Hasan Djazuli dan kegigihan dakwah ke-ASWAJA-an beliau, dan dengan ridla dan pertolongan Allah, ajaran dan amalan ala I’tiqad Ahli Sunnah Wal Jamaah menjadi ajaran dan amalan yang dipegangi kokoh oleh masyarakat Pliken.
Menurut Kiai Saifuddin, cucu dari Simbah KH. Hasan Djazuli, bahwa kakek beliau memiliki amalan yang bernama “Ayatul Hirzi”.[1] Amalan penjaga (tolak bala’) dari berbagai mara bahaya dan bala musibah, termasuk dari tenun ini diijazahkan ke putra beliau, KH. Thoha Salimi, selanjutnya diijazahkan ke Kiai Saifuddin.
Alkisah, menurut penuturan yang mutawatir juga, Simbah KH. Hasan Djazuli adalah ulama’ yang masyhur dengan mayoran, sebuah tradisi memberikan jamuan besar untuk tamu. Pada suatu hari datanglah seorang tamu ke ndalem Simbah KH. Hasan Djazuli. Tamu tersebut bernama Habib Alwi, konon kisahnya beliau berasal dari Pekalongan. Seperti lazimnya, istri beliau pun bergegas hendak belanja menyiapkan jamuan besar untuk tamunya yang datang dari jauh itu. Namun tidak seperti biasanya, uang yang akan digunakan untuk belanja ternyata tidak ada. Bahkan di balik sajadah Simbah KH. Hasan Djazuli yang biasanya terdapat uang pun beliau lihat juga tidak ada. Akhirnya, simbah Nyai Thahirah pun menyampaikan hal itu kepada Simbah KH. Hasan Djazuli. Sejenak kemudian, Simbah KH. Hasan Djazuli mengajak kepada istri beliau itu untuk mengikuti dari belakang menuju masjid dan membuka sajadah beliau, dan terlihatlah sejumlah uang yang cukup untuk memuliakan tamu beliau dengan mayoran. Demikian, mayoran sebagai tradisi memuliakan tamu adalah amalan beliau.
[1] Ayatul Hirzi ini terdiri dari ayat-ayat Al-Qur’an: Surat Al-Fatihah, Al-Baqarah (1-5, 163, 255-257, 284—286), Al-‘Araf (54-56), Al-Isra’ (110-111), As-Shaffat (1-11), Ar-Rahman (23-25), Al-Hasyr (21-24), Al-Jinn (1-4).
Peringatan Haul
Demikian, Kiai Haji Hasan Djazuli wafat meninggalkan Masjid, Pondok Pesantren beserta manuskrip kitab, dan tradisi “Ahad-Ahadan” serta amalan Thariqah. Sayangnya pondok pesantren beliau telah dibumi hanguskan oleh penjajah Belanda beserta beberapa kitab beliau. Pasalnya pondok pesantren beliau sempat dijadikan sebagai salah satu markas perjuangan perlawanan terhadap penjajah Belanda oleh para pejuang kemerdekaan di Banyumas. Dari sekian banyak kitab beliau, tersisa dua almari kitab yang terselamatkan, namun saat disimpan di rumah Kiai Jamzuri (cucu beliau dari jalur KH. Thoha Salimi), rumah beliau mengalami kebakaran pada tahun 1990-an akhir, tepatnya tahun 1998, bersama dengan dua almari kitab tersebut, dan hanya 4 manuskrip yang terselamatkan; pertama adalah bagian dari kitab ushul yang berisi catatan nasab dan perjalanan hidup beliau, kedua; manuskrip kitab tafsir Jalalain (15 Juz), ketiga, naskah khutbah tulisan beliau, dan keempat, tulisan tangan beliau seputar fiqih munakahah.
[1] Peringatan haul besar pertama kali diselenggarakan pada tahun 1987, dan dilangsungkan terus sampai sekarang.


